Sabtu, 17 Desember 2011


Kucing Ini Menerima Warisan Rp 118 Miliar  

TEMPO.CORoma - Seekor kucing berusia 4 tahun yang diselamatkan dari jalanan Kota Roma, Italia, mewarisi kekayaan US$ 13 juta atau setara Rp 118 miliar dari pemiliknya, seorang janda kaya pengusaha properti. Maria Assunta, yang meninggal dunia dua pekan lalu dalam usia 94 tahun, mewariskan hartanya kepada kucingnya yang bernama Tommaso.

Kekayaan yang diwariskan itu meliputi uang tunai, properti di Roma, Milan, dan tanah di Calabria. Ketika kesehatannya merosot pada dua tahun silam, Assunta, yang tidak memiliki anak memutuskan bahwa Tommaso layak mendapatkan perawatan setelah dia meninggal dunia. Pada November 2009 dia mewariskan seluruh perkebunannya kepada kucing yang dia selamatkan itu.

Awalnya Assunta menginstruksikan pengacaranya untuk mengidentifikasi asosiasi kesejahteraan hewan atau kelompok yang bisa diwarisi perkebunan itu dengan komitmen merawat Tommaso. Lantaran tak berhasil menemukan asosiasi yang cocok, dia memutuskan mewariskan seluruh uangnya kepada kucing itu melalui perawatnya, Stefania, yang akan merawat Tommaso sampai kematiannya kelak.

“Dia menyayangi perawat yang telah mendampinginya,” ujar salah seorang pengacaranya, Anna Orecchioni, kepada surat kabar Il Messaggero, Senin, 12 Desember 2011. “Kami yakin Stefania orang yang tepat melaksanakan keinginan Assunta. Dia menyukai binatang seperti dia mengabdikan dirinya kepada perempuan itu hingga akhir hayatnya.”

Stefania mengatakan dia tidak tahu kalau perempuan yang dia rawat itu sangat kaya. “Perempuan tua itu dilanda kesepian. Dia merawat kucing itu lebih dari Anda merawat seorang anak,” ujar perawat itu kepada Daily Telegraph.

“Saya berjanji kepadanya akan merawat kucing itu kalau dia meninggal. Dia ingin memastikan Tommaso disayangi dan dimanjakan. Tapi, saya tidak pernah membayangkan bahwa dia sekaya ini,” ujarnya.

Menurut Stefania, Assunta pendiam dan bijaksana. Dia hanya mengetahui sedikit tentang kehidupan pribadinya. “Dia hanya bilang pada saya bahwa dia sangat menderita karena kesepian.”

Tommaso dan Stefania, dengan kucing lainnya, kini tinggal di luar Kota Roma. Alamatnya dirahasiakan untuk menghindari kemungkinan penculikan. “Kami mendapat banyak pesan melalui surat elektronik yang ingin mengadopsi Tommaso,” ujar pengacara kucing itu kepada ABC News.

Dengan warisan itu, Tomasso menempati urutan ketiga daftar hewan peliharaan terkaya setelah anjing Gunther IV yang memiliki kekayaan US$ 372 juta dari ayahnya, Gunther III, dan simpanse Kalu dengan kekayaan US$ 80 juta.

Kontes Kucing Internasional di Kebon Kacang

Di Indonesia, kucing ras yang populer antara lain ras persia, exotic, dan maine coon.

JUM'AT, 16 DESEMBER 2011, 20:28 WIB
Irvan Beka
VIVAnews - Para pecinta kucing di Jakarta dan sekitarnya bisa menghabiskan akhir pekan ini untuk melihat kontes kucing ras. Kontes ini digelar oleh Asosiasi Penyayang Kucing Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Indonesia Cat Association (ICA).

Kontes ini akan dilaksanakan selama dua hari yakni Sabtu-Minggu, 17-18 Desember 2011. Lokasi penyelenggaraan kontes di Thamrin City, Jalan Kebon Kacang Raya/Thamrin Boulevard, Jakarta Pusat.

Wakil Sekretaris Jenderal ICA, Arji Rachman, menjelaskan kontes ini bertujuan untuk pemuliaan kucing ras dari berbagai jenis. ICA mengangkat tema 'Back to Purity' dalam kontes yang punya nama resmi 'The 40th-41st FIFe-ICA International Cat Show.'

"Kenapa pemurnian ras itu penting? Selaku pecinta kucing, kami ingin semua kucing itu sehat. Bagaimana bisa sehat, kami menjaga para anggota untuk paham soal silsilah kucing peliharaannya. Kalau tidak, nanti hasil pengembangbiakannya bisa cacat dan umurnya tidak panjang," kata Arji.

Saat ini, ICA mempunyai 1.500 anggota yang tersebar hingga pelosok Indonesia. Namun, hanya ada 155 kucing yang akan ikut serta di kontes kali ini.

"Antusiasme para pecinta kucing sangat bagus. Kami sampai harus mambatasi jumlah peserta. Di antara 155 peserta selain dari Jakarta dan sekitarnya, ada juga yang datang dari Makassar, Riau, Banyuwangi hingga Bali.

Di kontes kali ini ada tiga juri berlisensi internasional yang akan bertugas. Masing-masing dari Liechtenstein, Swiss, dan Indonesia. Juri internasional memang menjadi syarat agar hasil kontes diakui oleh dunia, dalam hal ini Fédération Internationale Féline (FIFe) yang menjadi induk organisasi ICA.

"Kontes ini juga menjadi ajang pembuktian seberapa sukses para peternak kucing bisa menjaga kualitas kucing mereka. Basanya, keturunan dari kucing yang juara di kontes seperti ini akan dicari orang, harganya belasan sampai puluhan juta," kata Arji.

Di Indonesia, kucing ras yang populer antara lain ras persia, exotic, dan maine coon. Ras lain seperti norwegian cat forest (NFC), bengal, dan sphynx juga cukup dikenal. Sphynx adalah ras kucing yang tak mempunyai bulu sehingga berkesan 'telanjang.' Ingin lihat dari dekat? (art)
• VIVAnews

Jumat, 16 Desember 2011

Deteksi Pesawat dari Landing hingga Take Off 


Alat ini membuat pergerakan pesawat lebih terarah dan bisa menghemat bahan bakar.
Laporan: Aswad Syam, Jakarta

MUSIBAH kehilangan jejak AdamAir di perairan Majene, juga pesawat Cessna yang jatuh di daerah Gunung Ciremai, mengajarkan kita tentang pentingnya teknologi. Andai teknologi Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADBS) sudah ada pada saat itu, puluhan nyawa setidaknya masih ada harapan terselamatkan.

Seperti itulah yang ada di benak saya saat mengamati empat monitor berjajar di dalam ruangan kantor Fajar Group Graha Lembang Sembilan Jakarta. Monitor paling kanan menampilkan data pesawat, monitor kedua data penerbangan dua dimensi, monitor ketiga data penerbangan tiga dimensi, dan monitor keempat menggambarkan pergerakan cuaca. Itulah perangkat alat pendeteksi pesawat yang dimodifikasi sebelas anak muda yang tergabung dalam Tim PAS. Dari situ kelihatan begitu padatnya trafik penerbangan kita di udara. Perangkat itu disosialisasikan tim PAS di depan Komisaris Utama PT Media Fajar, HM Alwi Hamu, Direktur Eksekutif Institut Lembang Sembilan (L9), Rapsel Ali, serta beberapa relasi bisnis Fajar Group.

Idealnya, jumlah pegawai Air Traffic Control (ATC) di Bandara Soekarno Hatta harusnya 400 orang, namun yang ada sekarang hanya setengahnya, 200 orang. Padahal di langit Jakarta, ada banyak pesawat yang siap landing tapi ATC sangat terbatas. Makanya dua penerbangan biasanya ditangani hanya satu orang, sehingga sangat rentan mengakibatkan kecelakaan pesawat.

Selain itu AQO atau radar doppler, harusnya sudah diganti delapan tahun lalu, namun saat ini masih digunakan di Soekarno Hatta, juga di bandara-bandara lainnya di Indonesia. Malah, di Bandara Ahmad Yani Semarang, radar doppler sama sekali tidak ada. Pegawai ATC bandara setempat, mengetahui posisi pesawat hanya lewat radio komunikasi dengan pilot pesawat.

Saat ini, memang PT Angkasa Pura II sementara mengagendakan untuk membeli alat service movement reader dari luar negeri yang harganya Rp44 miliar. Namun, sistemnya hanya di-ground saja. Padahal ada alat yang dimodifikasi sebelas orang anak negeri, dengan harga yang sepersepuluh lebih rendah, dan selain ground juga bisa juga mencitrakan pesawat yang terbang di ketinggian 55 ribu feet.

Ketua tim PAS yang merakit alat tersebut, Surya Indra mengungkapkan, perangkat alat tersebut dinamakan Automatic Dependent Surveillance Broadcast Next Generation (ADSB NextGen). Indra memaparkan, kelemahan radar doppler yang dipakai sekarnag ini, memiliki resolusi terbatas, gambar mentah (raw video), hanya dapat menampilkan dua dimensi, sulit menampilkan tiga dimensi, juga sulit membedakan objek yang berdekatan.

“Juga hanya mendeteksi objek dari logam, dan jangkauan yang pendek hanya 50 Nautical Miles (NM). Dan lebih parah lagi, bisa salah membaca target karena adanya pancaran sinyal-sinyal palsu,” papar Indra.

Indra menambahkan, radar doppler biasanya membaca dua detik satu move. Sedangkan ADSB pergerakan bacaannya satu detik satu move dalam dua dimensi. Sedangkan dalam tiga dimensi, ADSB bisa menampilkan pergerakan pesawat lima detik satu move. Radar doppler sendiri saat ini tidak memiliki tampilan tiga dimensi.

Semua pesawat keluaran terbaru, diwajibkan memiliki transponder. Alat ini berfungsi, menerima sinyal dari satelit yang dipancarkan dari pesawat via GPS. Sistem ADSB juga mengirit bahan bakar, ketika pesawat berpedoman pada radar doppler, dia biasanya harus berputar-putar hingga kurang lebih satu jam dan menghabiskan bahan bakar sekitar 250 kiloliter. Dengan ADSB, pergerakan pesawat akan terarah dan bisa menghemat hingga bahan bakar yang setara dengan 100 unit mobil.

“Sekarang ini kita fokus ke Jakarta, dan ke depan, kita mau buat interkoneksi Jakarta, Makassar, Maluku, dan Papua,” beber Indra.

Dibanding radar doppler, ADSB ini memiliki daya pancar sinyal yang lebih luas. Selain bisa menangkap sinyal pesawat di ketinggian 55 ribu feet, ADSB juga bisa men-cover sinyal pesawat pada luasan 600 kilometer. Kapasitas penyimpanan data bisa 15 tahun karena memiliki kapasitas memori sekitar 10 terabyte. (*)

Demokrat: Segera Monitor Miranda!
Headline
INILAH.COM, Jakarta - Kekhawatiran akan kaburnya mantan Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia Miranda S Goeltom ke luar negeri, sempat mencuat pasca tertangkapnya tersangka kasus cek pelawat Nunun Nurbaetie.

Apalagi, secara terang-terangan suami Nunun, Adang Daradjatun, membeberkan kedekatan antara Nunun dengan Miranda yang sebelumnya dibantah Miranda dalam kesaksiannya di pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor). Keberadaan Miranda pun sempat menjadi teka-teki, termasuk oleh KPK dan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Bahkan, Wamenkumham Denny Indrayana tidak bisa memastikan apakah benar di Bali atau tidak.

Ketua DPP Partai Demokrat (PD), Gede Pasek Suardika kepada INILAH.COM, Jumat (16/12/2011) mengatakan seharusnya sudah dipantau ketika nama Miranda mulai disebut-sebut kuat keterlibatannya. Tidak hanya mencabut paspor Miranda. "Iya kan ada aparat intelijen. Mestinya begitu kasusnya meledak lagi semua yang terkait harus sudah dalam monitoring intelijen, termasuk Miranda Goeltom," jelasnya.

Nama Miranda diprediksi kuat akan menjadi tersangka dalam kasus suap cek pelawat dalam pemilihan Deputi Gubernur BI kepada sejumlah anggota DPR. Selama dalam status buronan, Miranda masih bisa terbebas karena saksi kunci Nunun masih belum bisa ditemukan. Namun kini, Nunun telah kembali dan nama Miranda kembali santer disebut. Hingga kemudian, terdeteksi Miranda tidak berada di Jakarta.

Pasek sendiri merasa yakin Miranda masih di Indonesia. Hanya, Miranda butuh ketenangan untuk menghadapi masalah yang menyangkut dirinya.
"Saya kira yang bersangkutan masih di Indonesia hanya mungkin ingin menenangkan diri," kata anggota Komisi II DPR ini.

Dia pesimis jika Miranda memilih kabur dari Indonesia. Apalagi, pencabutan paspor yang bersangkutan kini diperpanjang. Pasek yakin, yang dilakukan Miranda hanya ingin menenangkan diri semata dari hiruk pikuk masalah ini.
"Siapapun yang menghadapi masalah ini pasti gundah dan ingin menenangkan diri tapi bukan berarti pasti melarikan diri. Menjauh dari hiruk pikuk dan kejaran media mungkin iya karena ingin menenangkan diri," jelasnya. [gus]

Nostalgia Lewat Pameran Mobil Klasik

JAKARTA - Ada yang beda dengan gelaran Otoblitz International Classic Car Show 2011 (OICC-Show) ke-5 karena pesta mobil klasik terbesar di Asia Tenggara ini digelar di Hall D2, Jakarta International Expo (JI-EXPO) Kemayoran mulai 16-18 Desember 2011, dari pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB.

"Pemindahan lokasi pameran dari Kartika Expo Center Balai Kartini ke JI-EXPO Kemayoran, kami lakukan setelah mempertimbangkan berbagai masukan dan saran dari banyak pihak yang menghendaki area pameran yang lebih luas dan nyaman." ungkap Azman Osman, Penyelenggara OICC-Show.

Event tahunan OICC-Show ini digagas dan diselenggarakan oleh WAW Productions – didukung PPMKI (Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia), IMI (Ikatan Motor Indonesia), pabrikan (ATPM) otomotif dunia yang berada di Indonesia, serta puluhan kolektor mobil klasik yang melegenda–hadir kembali menyapa para penggemar, pehobi, kolektor dan masyarakat.

Lewat koleksi terkini dari mobil Vintage, Classic, Sport, Youngtimer, Retro, Modern Classic, hingga Future Classic Sport Cars milik para kolektor Indonesia dan mancanegara mampu membangkitkan kembali nostalgia.

Peresmian pameran mobil klasik terbesar dan terlengkap di kawasan Asia Tenggara ini dlakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pagi tadi dan ditandai dengan pembukaan selubung hitam yang menyelimuti Mercedes-Benz 220SE Cabriolet (1960), Mercedes-Benz 190SL (1955), Mercedes-Benz 280SL Pagoda (1971), Pontiac Firebird (1969), Ford Mustang (1968) dan Datsun Fairlady 240Z.

Beberapa European All Stars dapat ditemui di arena ini yang meliputi BMW 2000 CS 1957, BMW 2002, VW Karman Ghia, Opel (Jerman), Citroen 2 CV (Perancis), Jaguar XJS, MGB Roadster, MGA Roadster, Austin Healey, Triumph Spitfire MK 3 (Inggris), Volvo P1800 (Swedia). Selain itu mobil Presiden pertama Indonesia Bung Karno juga hadir menemani ratusan mobil antik di ruang in door JIExpo. Bagi Anda pecinta mobil klasik tentunya akan sayang jika melewatkan hajatan besar ini.
(ian)
Antik Mengaku Tak Terima Undangan Gubernur
TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Wali Kota Kotamobagu Djelantik Mokodompit mengaku tidak menerima undangan acara sosialisasi hasil Konvensi Wina yang diadakan Kementrian Luar Negeri di Manado, Selasa, (22/11/2011).

Bahkan, dia pun tampak kaget saat mengetahui kekecewaan Gubernur Sulut Sinyo H Sarundajang lantaran ketidakhadiran bupati dan wali kota di Provinsi Sulut acara tersebut. Antik langsung memanggil stafnya untuk menanyakan ada tidaknya undangan kegiatan tersebut.

Staf dia mengatakan tidak ada undangan kegiatan sosialisasi tersebut. "Setiap ada kegiatan di provinsi, Kotamobagu selalu upayakan untuk hadir. Untuk (kegiatan) hari ini, saya belum lihat undanganya," kata
Antik.

Selain itu, alasan lain yang dia kemukakan adalah adanya rapat paripurna tahap satu pembahasan rancangan APBD Kotamobagu 2012 pada hari bersamaan dengan acara sosialisasi Konvensi Wina tersebut.

"Sesuai dengan himbauan gubernur, kalau boleh APBD sudah bisa dikonsultasikan (ke provinsi) sebelum November. Tapi juga yang namanya undangan dari provinsi, kita selalu aktif," tandas dia. (suk)
yon Koeswoyo Merasa Seperti Barang Antik


JAKARTA, KOMPAS.com -- Dalam konser A Nite to Remember, yang akan digelar di JITEC Mangga Dua Square, Jakarta Utara, 17 Desember 2011, Yon Koeswoyo, gitaris dan vokalis sekaligus satu-satunya personel dari keluarga Koeswoyo dalam grup Koes Plus formasi terkini, berencana membuat banyak orang tercengang ketika menyanyikan lagu "Jangan Memaksakan Diri".
"Lagu Koes Plus itu ada ribuan, banyak ragam musiknya. Sebetulnya, Koes Plus punya lagu tentang Jakarta yang judulnya 'Jangan Memaksakan Diri'," kata Yon dalam jumpa pers konser A Nite to Remember di Hotel Sheraton-Media, Jakarta Utara, Selasa (13/12/2011).
Memang, diakui oleh pemilik nama asli Koesjono ini, lagu tersebut kurang terkenal dibanding lagu-lagu lain Koes Plus, seperti "Kolam Susu" dan "Bujangan". "Tapi, lagu ini enggak terkenal. Kalau mau, nanti saya akan bawakan. Orang pasti tercengang kalau saya bawakan itu. Jadi, lagu ini tentang kemacetan Jakarta. Ya mbok jangan terus dijual mobilnya, kalau jalannya cuma segini," kata Yon lagi.
Tampil dalam konser yang juga menampilkan Achmad Albar, Oddie Agam, 2D (Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra), B3, Pingkan Mambo, Andien, dan Once tersebut, Yon merasa seperti barang antik. "Menonton kami seperti melihat barang antik. Orangnya antik, lagunya awet," ucapnya.

Selasa, 13 Desember 2011

Jaringan komputer

Jaringan komputer (jaringan) adalah sebuah sistem yang terdiri atas komputer-komputer yang didesain untuk dapat berbagi sumber daya (printer, CPU), berkomunikasi (surel, pesan instan), dan dapat mengakses informasi(peramban web).[1] Tujuan dari jaringan komputer adalah[1]
Agar dapat mencapai tujuannya, setiap bagian dari jaringan komputer dapat meminta dan memberikan layanan (service).[1] Pihak yang meminta/menerima layanan disebut klien (client) dan yang memberikan/mengirim layanan disebut peladen (server).[1] Desain ini disebut dengan sistem client-server, dan digunakan pada hampir seluruh aplikasi jaringan komputer.[1]
Dua buah komputer yang masing-masing memiliki sebuah kartu jaringan, kemudian dihubungkan melalui kabel maupun nirkabel sebagai medium transmisi data, dan terdapat perangkat lunak sistem operasi jaringan akan membentuk sebuah jaringan komputer yang sederhana.[2]: Apabila ingin membuat jaringan komputer yang lebih luas lagi jangkauannya, maka diperlukan peralatan tambahan seperti Hub, Bridge, Switch, Router, Gateway sebagai peralatan interkoneksinya.[2]

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Sejarah

ini model Distributed Processing
Sejarah jaringan komputer bermula dari lahirnya konsep jaringan komputer pada tahun 1940-an di Amerika yang digagas oleh sebuah proyek pengembangan komputer MODEL I di laboratorium Bell dan group riset Universitas Harvard yang dipimpin profesor Howard Aiken.[3] Pada mulanya proyek tersebut hanyalah ingin memanfaatkan sebuah perangkat komputer yang harus dipakai bersama.[3] Untuk mengerjakan beberapa proses tanpa banyak membuang waktu kosong dibuatlah proses beruntun (Batch Processing), sehingga beberapa program bisa dijalankan dalam sebuah komputer dengan kaidah antrian.[3]
Kemudian ditahun 1950-an ketika jenis komputer mulai berkembang sampai terciptanya super komputer, maka sebuah komputer harus melayani beberapa tempat yang tersedia (terminal), untuk itu ditemukan konsep distribusi proses berdasarkan waktu yang dikenal dengan nama TSS (Time Sharing System).[4] Maka untuk pertama kalinya bentuk jaringan (network) komputer diaplikasikan.[4] Pada sistem TSS beberapa terminal terhubung secara seri ke sebuah komputer atau perangkat lainnya yang terhubung dalam suatu jaringan (host) komputer.[4] Dalam proses TSS mulai terlihat perpaduan teknologi komputer dan teknologi telekomunikasi yang pada awalnya berkembang sendiri-sendiri.[4] Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset yang bertujuan untuk menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik di tahun 1969.[5] Program riset ini dikenal dengan nama ARPANET.[5] Di tahun 1970, sudah lebih dari 10 komputer yang berhasil dihubungkan satu sama lain sehingga mereka bisa saling berkomunikasi dan membentuk sebuah jaringan.[5] Dan di tahun 1970 itu juga setelah beban pekerjaan bertambah banyak dan harga perangkat komputer besar mulai terasa sangat mahal, maka mulailah digunakan konsep proses distribusi (Distributed Processing).[3] Dalam proses ini beberapa host komputer mengerjakan sebuah pekerjaan besar secara paralel untuk melayani beberapa terminal yang tersambung secara seri disetiap host komputer.[3] Dalam proses distribusi sudah mutlak diperlukan perpaduan yang mendalam antara teknologi komputer dan telekomunikasi, karena selain proses yang harus didistribusikan, semua host komputer wajib melayani terminal-terminalnya dalam satu perintah dari komputer pusat.[3]
Ini adalah Model Time Sharing System (TSS)
Di tahun 1972, Roy Tomlinson berhasil menyempurnakan program surat elektonik (email) yang dibuatnya setahun yang lalu untuk ARPANET.[5] Program tersebut begitu mudah untuk digunakan, sehingga langsung menjadi populer.[5] Pada tahun yang sama yaitu tahun 1972, ikon at (@) juga diperkenalkan sebagai lambang penting yang menunjukan “at” atau “pada”.[5] Tahun 1973, jaringan komputer ARPANET mulai dikembangkan meluas ke luar Amerika Serikat.[5] Komputer University College di London merupakan komputer pertama yang ada di luar Amerika yang menjadi anggota jaringan Arpanet.[5] Pada tahun yang sama yaitu tahun 1973, dua orang ahli komputer yakni Vinton Cerf dan Bob Kahn mempresentasikan sebuah gagasan yang lebih besar, yang menjadi cikal bakal pemikiran International Network (Internet).[5] Ide ini dipresentasikan untuk pertama kalinya di Universitas Sussex.[5] Hari bersejarah berikutnya adalah tanggal 26 Maret 1976, ketika Ratu Inggris berhasil mengirimkan surat elektronik dari Royal Signals and Radar Establishment di Malvern.[5] Setahun kemudian, sudah lebih dari 100 komputer yang bergabung di ARPANET membentuk sebuah jaringan atau network.[5]
Peta logika dari ARPANET
Tom Truscott, Jim Ellis dan Steve Bellovin, menciptakan newsgroups pertama yang diberi nama USENET (User Network) di tahun 1979.[6] Tahun 1981, France Telecom menciptakan sesuatu hal yang baru dengan meluncurkan telepon televisi pertama, di mana orang bisa saling menelepon yang juga berhubungan dengan video link.[6]
Seiring dengan bertambahnya komputer yang membentuk jaringan, dibutuhkan sebuah protokol resmi yang dapat diakui dan diterima oleh semua jaringan.[6] Untuk itu, pada tahun 1982 dibentuk sebuah Transmission Control Protocol (TCP) atau lebih dikenal dengan sebutan Internet Protocol (IP) yang kita kenal hingga saat ini.[6] Sementara itu, di Eropa muncul sebuah jaringan serupa yang dikenal dengan Europe Network (EUNET) yang meliputi wilayah Belanda, Inggris, Denmark, dan Swedia.[6] Jaringan EUNET ini menyediakan jasa surat elektronik dan newsgroup USENET.[6]
Untuk menyeragamkan alamat di jaringan komputer yang ada, maka pada tahun 1984 diperkenalkan Sistem Penamaan Domain atau domain name system, yang kini kita kenal dengan DNS.[5] Komputer yang tersambung dengan jaringan yang ada sudah melebihi 1000 komputer lebih.[5] Pada 1987, jumlah komputer yang tersambung ke jaringan melonjak 10 kali lipat menjadi 10000 lebih.[5]
Jaringan komputer terus berkembang pada tahun 1988, Jarkko Oikarinen seorang berkebangsaan Finlandia menemukan sekaligus memperkenalkan Internet Relay Chat atau lebih dikenal dengan IRC yang memungkinkan dua orang atau lebih pengguna komputer dapat berinteraksi secara langsung dengan pengiriman pesan (Chatting ).[6] Akibatnya, setahun kemudian jumlah komputer yang saling berhubungan melonjak 10 kali lipat.[6] tak kurang dari 100000 komputer membentuk sebuah jaringan.[6] Pertengahan tahun 1990 merupakan tahun yang paling bersejarah, ketika Tim Berners Lee merancang sebuah programe penyunting dan penjelajah yang dapat menjelajai komputer yang satu dengan yang lainnya dengan membentuk jaringan.[6] Programe inilah yang disebut Waring Wera Wanua atau World Wide Web.[6]
Komputer yang saling tersambung membentuk jaringan sudah melampaui sejuta komputer di tahun 1992.[5] Dan di tahun yang sama muncul istilah surfing (menjelajah).[5] Dan di tahun 1994, situs-situs di internet telah tumbuh menjadi 3000 alamat halaman, dan untuk pertama kalinya berbelanja melalui internet atau virtual-shopping atau e-retail muncul di situs.[5] Di tahun yang sama Yahoo! didirikan, yang juga sekaligus tahun kelahiran Netscape Navigator 1.0.[5]

 

Pooh-poohing Reardon's cell phone problems ignores state law




We knew there would be some pushback when we wrote about public records detailing how Snohomish County Executive Aaron Reardon apparently used a government-issued cell phone for hundreds of calls this year with key members of his successful re-election campaign.

The stories, here and here, were greeted by anonymous online comments suggesting we were being petty. By Friday, there was a letter to the editor from an Everett reader who dismissed close examination of Reardon's phone habits as "total nonsense" unworthy of attention.

In other words: Nothing to see here, folks. Move along.

We get that sort of reaction a fair bit when we write unflattering things about Reardon, a popular Democrat poised to start his third term in the county's top job. Still, to dismiss the evidence found in the county executive's phone records ignores context -- and state campaign law.

We examined Reardon's phone bills because they were compiled as part of an ongoing Washington State Patrol criminal investigation. As we've been reporting since Nov. 3, detectives are trying to determine whether he engaged in official misconduct involving public funds. The investigation was launched in late October after a female county employee alleged she accompanied Reardon on what he described as county business but she claims actually were opportunities for hotel-room trysts.

The county phone bills for 2011 show two long calls between cell phones used by Reardon and the woman. She says there are more. She's yet to sit with us for a formal interview. She has been talking with detectives.

Reardon has denied wrongdoing. He also has refused to answer our repeated, direct questions about the woman and her claims.

We expect the State Patrol investigation could take a while. Meanwhile, more Reardon records will become public. The cell phone billings, which covered about 10,000 Reardon communications this year alone, were obtained by us and others under public records laws after the county sent them to detectives.

We wrote about Reardon's use of his county cell phone because of what the data showed. Our analysis found more than 800 phone calls and roughly 1,200 text messages this year between the county phone Reardon carries and the core people in his re-election campaign. Those folks included his campaign manager, his paid political consultant, his fundraiser and his campaign media expert. Also in the mix were more than 175 calls between Reardon's county-issued phone and the phone number listed on election disclosure forms as the official point of contact for his campaign.

All told, the calls linked to Reardon's campaign totaled nearly 55 hours, or 3,265 minutes, of talking time. With text messages included, the campaign-related contacts constituted 20 percent of all the times Reardon's government cell phone was used to communicate from January through early November, data show.

Yes, it appears Reardon made many of those calls when he wouldn't be expected at the office. The reverse is true, too. The data list 27 hours of calls to Reardon campaign members on work days during normal business hours (8 a.m. to noon; 1 p.m. to 5 p.m.).

So far this year, the county was billed more than $1,700 to provide Reardon with cell phone service. Even if there was some arrangement under which Reardon or his campaign paid his county phone bills (and nobody has suggested to us that is the case) the questions don't go away.

State law prohibits using public resources in political campaigns. Those who ignore the rules can face steep civil fines.

Lawyers we consulted said the relevant law is RCW 42.17.130. It says in part: "No elective official nor any employee of his [or her] office nor any person appointed to or employed by any public office or agency may use or authorize the use of any of the facilities of a public office or agency, directly or indirectly, for the purpose of assisting a campaign for election of any person to any office or for the promotion of or opposition to any ballot proposition."

The law goes on to make clear the prohibition extends to equipment, office space, vehicles, employees' time -- anything typically paid for with public funds.

And yes, that list includes government phones. Election watchdogs at the state Public Disclosure Commission make that clear in their tip sheet for running lawful campaigns.

These rules aren't arcane political secrets. The Municipal Research and Services Center of Washington posts detailed guidelines. State courts have gigged teachers for using school email to arrange campaign activity. As early as 1999, the state auditor spanked a fire commissioner for using his cell phone for what was described as potential campaign activity.

Complaints about apparent violations of RCW 42.17.130 also make up a good part of the caseload for state election regulators. The investigations often focus on complaints about candidates using public resources in political advertising -- say an image of a city fire truck, or somebody posing in a police uniform.

Indeed, Reardon's election opponent this year, state Rep. Mike Hope, R-Lake Stevens, was the focus of just such a complaint. Remember? That complaint against Hope, which was dismissed, triggered an election season flap after a home address associated with Reardon staffer Kevin Hulten somehow wound up being used as a mailing address for a Seattle man who says he complained.

Reardon repeatedly has told us, without equivocation, that no public resources were used in his re-election efforts. He did that most recently the afternoon his cell phone bills were made public. Reardon stopped responding to our calls and emails, however, when we brought him questions based on what the bills appear to document. To our knowledge, he's yet to challenge what we've reported regarding his cell phone use.

Winnie-the-Pooh

Winnie-the-Pooh (original version from 1926)
Winnie-the-Pooh, also called Pooh Bear, is a fictional anthropomorphic bear created by A. A. Milne. The first collection of stories about the character was the book Winnie-the-Pooh (1926), and this was followed by The House at Pooh Corner (1928). Milne also included a poem about the bear in the children’s verse book When We Were Very Young (1924) and many more in Now We Are Six (1927). All four volumes were illustrated by E. H. Shepard.
The hyphens in the character's name were later dropped when The Walt Disney Company adapted the Pooh stories into a series of Disney features that became one of its most successful franchises.
The Pooh stories have been translated into many languages, including Alexander Lenard's Latin translation, Winnie ille Pu, which was first published in 1958, and, in 1960, became the only Latin book ever to have been featured on the New York Times Best Seller List.[1]
In popular film adaptations, Pooh Bear has been voiced by actors Sterling Holloway, Hal Smith and Jim Cummings in English, Yevgeny Leonov in Russian, and Shun Yashiro and Sukekiyo Kameyama in Japanese.

 

Tun Sri Lanang Satukan Indonesia-Malaysia
Mukhamad Kurniawan | Marcus Suprihadi | Kamis, 8 Desember 2011 | 16:15 WIB
Dibaca: 2362
|
Share:
KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN Tokoh Melayu Tun Sri Lanang
BIREUN, KOMPAS.com- Tun Sri Lanang, tokoh sejarah Melayu, dinilai sebagai sosok pemersatu negeri serumpun Indonesia dan Malaysia. Jejak peninggalan dan keturunannya menguatkan kesimpulan tersebut.
Latar belakang itu menjadi salah satu alasan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala serta Yayasan Tun Sri Lanang dan Masyakat Sejarah Indonesia menggelar seminar ketokohan Tun Sri Lanang di Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam, Kamis (8/12/2011).
Tun Sri Lanang bernama asli Tun Muhammad dan bergelar Dato' Bendahara Tun Muhammad dan Orang Kaya Seri Paduka Tun Seberang. Sebelum memimpin Negeri Samalanga (Bireuen) tahun 1615-1659, Tun Sri Lanang merupakan seorang Bendahara (Perdana Menteri) Kerajaan Pahang.
Kepindahannya ke Aceh terkait keberadaan Aceh sebagai kesultanan besar yang mampu melawan kekuatan Portugis di Malaka secara berkesinambungan. Akan tetapi, perlawanan itu harus dibayar mahal dengan jatuhnya banyak korban jiwa. Populasi rakyat Aceh pun merosot.
Oleh karenanya, Sultan Aceh yang saat itu dipimpin Sultan Iskandar Muda berinisiatif membawa rakyat dan pemimpinnya dari wilayah kekuasaan ke Aceh, salah satu yang bermigrasi adalah Tun Muhammad (Tun Sri Lanang).
Tun Sri Lanang menurunkan garis keturunan di dua bangsa Malaysia dan Indonesia. Di Malaysia, keturunannya merupakan para sultan di Melayu, seperti Sultan Pahang, Sultan Johor, Sultan Trengganu, dan Sultan Selangor. Sementara di Aceh, Tun Sri Lanang menurunkan darah keberanian dan perjuangannya kepada Pocut Meuligoe, ahli waris ke-5, yang memimpin perlawanan terhadap Belanda hingga terusir dari Samalanga.
Terkait itu, Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala I Gde Pitana, berharap peran besar Tun Sri Lanang dan sejumlah peninggalannya dapat dijadikan untuk merevitalisasi memori kolektif kedua negara bangsa agar terjalin hubungan yang lebih baik.
Kerjasama keduanya sudah terlihat dalam proses pembangunan makam Tun Sri Lanang di Samalanga, Bireuen, beberapa tahun terakhir.
 

Ini Dia! Megawati Instruksikan PDIP Jadi Pelopor Pemberantasan Korupsi

Laurencius Simanjuntak - detikNews

<a href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a59ecd1b&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=24&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a59ecd1b' border='0' alt='' /></a>


Bandung - Korupsi memiliki daya rusak yang besar bagi sebuah bangsa. Karenanya, sebagai tanggung jawab terhadap masa depan bangsa, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, menginstruksikan partai untuk menjadi pelopor dalam pemberantasan korupsi.

"Sebagai ketua umum partai dengan tanggung jawab besar terhadap sejarah dan masa depan bangsa, maka melalui Rakernas I ini, saya menginstruksikan, agar PDI Perjuangan menjadi pelopor dalam upaya pemberantasan korupsi," kata Megawati.

Hal itu disampaikan Megawati dalam pidato politik Pembukaan Rakernas I PDI Perjuangan di Hotel Harris, Jl Peta, Bandung, Senin (12/12/2011). Pembukaan dihadiri 1200 peserta.

Megawati mengatakan, daya rusak korupsi sudah sama-sama dirasakan bangsa dan rakyat Indonesia. Bahkan, katanya, secara diam-diam di tengah tekanan ekonomi yang luar biasa, rakyat seakan-akan menunggu datangnya kucuran money politics pada setiap momentum Pemilu dan Pilkada.

"Rakyat seakan-alam rela membarter suaranya dengan sedikit uang. Kita tidak perlu menunggu lebih banyak bukti lagi, untuk sampai pada kesimpulan bahwa korupsi adalah musuh hari ini dnaa masa depan kita sebagai bangsa," ujar Megawati yang mengenakan stelan merah-hitam ini.

Menurut anak proklamator Bung Karno itu, inilah momentum yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk menyatakan cukup terhadap korupsi.

"Ini momentum yang tepat bagi kita bukan saja untuk secara bersama-sama menyatakan enough is enough pada korupsi, tapi sekaligus mau bahu membahu belajar dan mengembangkan sikap antikorupsi, baik di kalangan partai maupun di kalangan rakyat," ujarnya.

Untuk itu, kata Megawati, pihaknya sedang merancang sistem keuangan partai yang mengedepankan akuntabilitas.

"Partai memang memerlukan biaya untuk konsolidasi, untuk mendidik calon-calon pemimpin bangsa, untuk pendidikan politik rakyat dan untuk membiayai pemilu. Tetapi kesemuanya itu tidak boleh menjadi alasan pembenar untuk korupsi," tegasnya.