Selasa, 13 Desember 2011

Rakernas Rumuskan Program Konkret PDF Print
Tuesday, 13 December 2011
KETUA Panitia Penyelenggara Rakernas I PDIP Puan Maharani menyatakan, partainya akan merumuskan berbagai program nyata dan konkret dalam rakernas kali ini.

Menurut dia,kerja kepartaian yang jelas dan nyata merupakan harapan terbesar pelaksanaan rakernas. ”Jadi tidak ada program yang di awang-awang,” kata Puan saat menyampaikan sambutan pembukaan Rakernas I PDIP. Dia menyatakan, sudah bukan pada tempatnya para kader PDIP hanya melempar retorika politik kepada masyarakat.

Di Kota Bandung yang sarat sejarah perjuangan, kata Puan, saatnya PDIP menawarkan agenda kepartaian yang digerakkan oleh ideologi dan menyentuh langsung persoalan pokok rakyat. ”Dengan demikian, Rakernas I ini bukan hanya menjadi tempat untuk merumuskan program partai pada 2012, namun yang lebih penting, bagaimana PDIP ikut mengobarkan kembali harapan rakyat yang sudah putus asa akibat beratnya beban hidup.

Karena itulah Rakernas I ini juga akan membahas berbagai persoalan aktual bangsa dan negara,” ungkapnya. Persoalan aktual yang dimaksud Puan antara lain melunturnya kedaulatan bangsa, kemiskinan, korupsi, juga persoalan pendidikan dan kesehatan. Menurut dia, berbagai hal itu masih menjadi potret buram kesejahteraan manusia Indonesia. Salah satu ketua DPP PDIP ini menambahkan, beban hidup yang semakin besar membuat rakyat kian sulit memenuhi kebutuhan dasarnya.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar atas tujuan dasar bernegara: mengapa negara tidak mampu menjamin kebutuhan dasar bagi warga negaranya. ”Dalam situasi seperti itulah rakernas ini dilaksanakan. Kesejahteraan rakyat sudah semakin jauh dari impian. Ini perlu solusi. Dan solusi hanya dapat ditemukan bila seluruh jajaran partai secara nyata mencurahkan energi dan pikirannya,” tandas putri Megawati ini.

Menuurut Puan, yang dibutuhkan rakyat sekarang ini adalah kesejahteraan. Sudah menjadi tanggung jawab PDIP sebagai parpol untuk terus bersama rakyat mewujudkan cita-cita kesejahteraan. ”Selaku ketua penyelenggara,saya berharap, seluruh peserta rakernas dapat memberikan energi terbaiknya. Tema Rakernas ‘Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat’ adalah tema yang harus kita sampaikan terus menerus,” ungkapnya.

Berkaitan dengan program nyata dan langsung menyentuh rakyat, Rakernas I PDIP akan mematangkan agenda pemberdayaan ekonomi kerakyatan, rumah sakit tanpa kelas, dan beberapa program lainnya. ”Fokus kita adalah satu program memberikan seribu manfaat. Bukan seribu program tapi hanya satu manfaat,”tegasnya. Sementara itu,sikap politik PDIP tentang sistem Pemilu 2014 sudah final. Parpol pimpinan Megawati Soekarnoputri ini dipastikan bakal ngotot memperjuangkan sistem pemilu proporsional tertutup atau keterpilihan berdasarkan nomor urut.

”Itu sudah final disepakati di PDIP dan akan menjadi salah satu rekomendasi rakernas pertama,”kata Ketua Steering Committee (SC) Rakernas I PDIP Andreas Pareira di Bandung kemarin. Keputusan itu, kata dia, akan diperjuangkan di DPR dalam agenda fraksi pada 2012. Kepentingannya adalah untuk mengoreksi liberalisasi politik agar demokrasi tidak dikendalikan kekuatan uang.

Menurut Andreas, berdasarkan kajian PDIP, pemilu dengan sistem proporsional terbuka seperti digunakan saat ini tidak mendidik kepribadian bangsa Indonesia. ”Kita lihat sendiri, dalam merebut kursi legislatif, terjadi pertarungan yang tidak sehat dan banyak dimenangkan oleh mereka yang banyak uang,” ujarnya. Sekretaris I Fraksi PDIP DPR Ganjar Pranowo menyatakan, sebagai sikap politik partai, hal ini akan diperjuangkan secara maksimal di DPR.

Terlebih dalam pembahasan RUU Pemilu,Fraksi PDIP memiliki posisi strategis sebagai ketua panitia khusus (pansus). Ganjar mengajak semua pihak tidak resisten dan nyinyir kalaupun harus kembali pada sistem proporsional tertutup. Fakta empiriknya, sistem proporsional terbuka terbukti tidak lebih baik. Hal yang paling mencolok dari proporsional terbuka, lanjut Ganjar,adalah semakin berkembangnya sikap indi-vidualistis dalam demokrasi bangsa ini.

Kekuatan demokrasi musyawarah sebagai kekuatan moral bangsa menjadi terkikis akibat semua ditentukan oleh banyaknya suara. ”Dalam demokrasi sekarang ini hanya popularitas yang dikedepankan. Dan untuk menuju itu salah satunya harus dengan kekuatan uang. Itu yang kami anggap tidak sehat,” tandasnya. rahmat sahid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar