Pemkot Hutang RSU Soetomo Rp 52 M
Walikota Dianggap Membunuh Massal Warga Miskin
Surabaya -
Walikota Surabaya Tri Rismaharini dinilai bisa membunuh massal warga miskin di
Surabaya. Pasalnya, biaya pengobatan warga miskin Surabaya non kuota jamkesmas
maupun jamkesda sebesar sekitar Rp 52 miliar belum dibayar ke RSU dr Soetomo
Surabaya.
Belasan warga mengatasnamakan Forum Warga Surabaya ini sebelumnya menggelar aksi demo di air mancur perempatan Jalan Panglima Sudirman-Jalan Pemuda dan Jalan Yos Sudarso. Mereka menilai orang nomor satu di Surabaya itu mementingkan urusannya, pesta dan makan enak dari pada memperhatikan kesusahan yang dihadapi rakyat miskin.
"Kami selalu mengawasi perjalanan ibu (Walikota Risma), yang hampir setiap minggu ada namanya tenda untuk pertemuan-pertemuan, pesta, makan-makan enak. Bukannya kami jemu, tapi itu bisa dilakukan, yang penting rakyat miskin selesai dalam permasalahannya," ujar salah satu peserta aksi dari Forum Warga Surabaya saat melakukan aksi di depan rumah dinas Walikota Surabaya Jalan Sedap Malam, Senin (5/12/2011).
"Bagaimana rakyat miskin mau sehat, sementara obat di RS dihentikan pada ini hari karena hutangnya lebih dari Rp 52 miliar belum terbayar," teriaknya.
Para peserta aksi yang juga berorasi menilai, akibat hutang Pemkot yang belum dibayar ke RSU dr Soetomo, membuat rumah sakit mengambil kebijakan, bahwa warga miskin non kuota jamkesmas maupun jamkesda mulai hari ini, Senin 5 Desember 2011, tidak boleh berobat. Kondisi tersebut dinilainya sangat memberatkan warga miskin yang sudah susah.
"Warga miskin Surabaya, jangan pernah sakit. Sebab saat ini anda disuruh membayar. Kota kami sudah tidak mampu membayar anda yang sudah sakit. Untuk warga miskin Surabaya kami mohon anda dilarang sakit, sebab dana untuk rakyat sakit sudah habis. Perhatian sekali lagi, dana untuk orang sakit warga miskin sudah habis, anda jangan pernah sakit," tuturnya
"Mungkin ibu ada di dalam atau tidak dalam (rumah dinas) bisa mendengarkan kami alhamdulillah. Warga miskin cukup sukses cukup sempurna pembunuhan massal," jelasnya.
Selain menggelar aksi di air mancur, belasan orang itu berjalan menuju ke gedung DPRD Surabaya, Jalan Yos Sudarso. Dalam aksinya, massa yang membawa kardus yang bertuliskan: 'Aksi keprihatinan Koin kemanusian kesehatan keluarga miskin'.
Selain itu, massa juga menggelar berbagai poster yang diantaranya bertuslikan, 'Rakyat miskin dilarang sakit', 'Mobdin bisa ditunda, orang sakit diutamakan', 'Jangn bilang demi rakyat kalau tidak peduli rakyat miskin', 'Jangan suka menganiaya orang miskin kualat cuk', 'Hutang bayarmu bedes (kera)' dan berbagai tulisan lainnya.
Di sela-sela aksinya, massa juga melempar koin ke arah gedung DPRD Surabaya dan rumah dinas Walikota Surabaya. Aksi tersebut dinilai sebagain bentuk warga miskin dilarang menggunakan APBD.
"Dewan pemkot kita lempar koin sebagai bentuk kekecewaan rakyat terhadap dewan pemot yang tidak peduli masyarakat miskin, masyarakat kecil," ujar Jubir Forum Warga Surabaya, Hasanuddin.
"Sudah miskin, sakit tapi masih menanggung kesusahannya. Mana kepedulian dari pemokot dewan mana, kita tunggu janji-jani itu," katanya.
"Mereka berkampanye demi rakyat, mereka berkampanye untuk rakyat miskin, tapi kenyataannya, kenyataannya bushet semua itu, mereka ngwaur dalam kampanye," jelasnya.
Belasan warga mengatasnamakan Forum Warga Surabaya ini sebelumnya menggelar aksi demo di air mancur perempatan Jalan Panglima Sudirman-Jalan Pemuda dan Jalan Yos Sudarso. Mereka menilai orang nomor satu di Surabaya itu mementingkan urusannya, pesta dan makan enak dari pada memperhatikan kesusahan yang dihadapi rakyat miskin.
"Kami selalu mengawasi perjalanan ibu (Walikota Risma), yang hampir setiap minggu ada namanya tenda untuk pertemuan-pertemuan, pesta, makan-makan enak. Bukannya kami jemu, tapi itu bisa dilakukan, yang penting rakyat miskin selesai dalam permasalahannya," ujar salah satu peserta aksi dari Forum Warga Surabaya saat melakukan aksi di depan rumah dinas Walikota Surabaya Jalan Sedap Malam, Senin (5/12/2011).
"Bagaimana rakyat miskin mau sehat, sementara obat di RS dihentikan pada ini hari karena hutangnya lebih dari Rp 52 miliar belum terbayar," teriaknya.
Para peserta aksi yang juga berorasi menilai, akibat hutang Pemkot yang belum dibayar ke RSU dr Soetomo, membuat rumah sakit mengambil kebijakan, bahwa warga miskin non kuota jamkesmas maupun jamkesda mulai hari ini, Senin 5 Desember 2011, tidak boleh berobat. Kondisi tersebut dinilainya sangat memberatkan warga miskin yang sudah susah.
"Warga miskin Surabaya, jangan pernah sakit. Sebab saat ini anda disuruh membayar. Kota kami sudah tidak mampu membayar anda yang sudah sakit. Untuk warga miskin Surabaya kami mohon anda dilarang sakit, sebab dana untuk rakyat sakit sudah habis. Perhatian sekali lagi, dana untuk orang sakit warga miskin sudah habis, anda jangan pernah sakit," tuturnya
"Mungkin ibu ada di dalam atau tidak dalam (rumah dinas) bisa mendengarkan kami alhamdulillah. Warga miskin cukup sukses cukup sempurna pembunuhan massal," jelasnya.
Selain menggelar aksi di air mancur, belasan orang itu berjalan menuju ke gedung DPRD Surabaya, Jalan Yos Sudarso. Dalam aksinya, massa yang membawa kardus yang bertuliskan: 'Aksi keprihatinan Koin kemanusian kesehatan keluarga miskin'.
Selain itu, massa juga menggelar berbagai poster yang diantaranya bertuslikan, 'Rakyat miskin dilarang sakit', 'Mobdin bisa ditunda, orang sakit diutamakan', 'Jangn bilang demi rakyat kalau tidak peduli rakyat miskin', 'Jangan suka menganiaya orang miskin kualat cuk', 'Hutang bayarmu bedes (kera)' dan berbagai tulisan lainnya.
Di sela-sela aksinya, massa juga melempar koin ke arah gedung DPRD Surabaya dan rumah dinas Walikota Surabaya. Aksi tersebut dinilai sebagain bentuk warga miskin dilarang menggunakan APBD.
"Dewan pemkot kita lempar koin sebagai bentuk kekecewaan rakyat terhadap dewan pemot yang tidak peduli masyarakat miskin, masyarakat kecil," ujar Jubir Forum Warga Surabaya, Hasanuddin.
"Sudah miskin, sakit tapi masih menanggung kesusahannya. Mana kepedulian dari pemokot dewan mana, kita tunggu janji-jani itu," katanya.
"Mereka berkampanye demi rakyat, mereka berkampanye untuk rakyat miskin, tapi kenyataannya, kenyataannya bushet semua itu, mereka ngwaur dalam kampanye," jelasnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar