Evaluasi kognitif
1.
Jelaskan ciri-ciri induk betina dan induk jantan
arwana,patin,gurame, dan bawal?
2.
Berdasarkan sifat penjagaan terhadap
keturunannya,induk ikan di bedakan menjadi parental care dan non parental care.
Apakah sifat penjagaan mempengaruhi sifat penetasan telur dan keberlangsungan
hidup larva? Jelaskan!
3.
Jelaskan peruses dari kegiatan :
A.
Penebaran induk
B.
Pemberian pakan
C.
Pengelolaan pakan
D.
Pengelolaan kualitas media budidaya
Dari iakn arwana,patin,gurame dan
bawal!
JAWABAN
1. -ciri-ciri
induk ikan arwana
Induk
betina :
Badannya
lebih pendek dan kepalanya lebih runcing
Induk
jantan:
Badannya
yang memanjang dan kepalanya yang melebar
karena berfungsi untuk menyimpan telur
-ciri-ciri
induk ikan betina dan jantan ikan patin
Induk
jantan:
Tubuh lebih
panjang,mempunyai satu buah lubang kelamin yang bentuknya panjang,berat minimum
2kg/ekor
Induk
betina:
Tubuh lebih
pendek , mempunyai 2 buah lubang kelamin yang berbentuk bulat , berat minimum
3kg/ekor
-ciri-ciri
induk jantan dan betina ikan gurame
Induk jantan:
Mempunyai
dasar sirip yang berwarna terang/keputih-putihan,dagu yang berwarna kuning
,lebih tebal dari pada betina dan menjulur
Induk
betina :
Mempunyai
dasar sirip dada yang gelap / mehitaman ,dagu yang berwarna keputih-keputihan
atau sedikit coklat jika di taruh dilantai ikan tidak menunjukkan reaksi
apa-apa.
-ciri-ciri
induk jantan dan betina ikan bawal
Induk
jantan:
Tubuhnya
lebih langsing ,warna merah pada perutnya lwbih menyala,agresif,mengeluarkan
cairan putih jika di striping kea rah kelamin apa bila sudah matang gonad
Induk
betina:
Tubuhnya
lebih besar,gerakannya lambat, jika di striping akan mengeluarkan telur apabila
sudah matang gonad.
2. Setelah dikeluarkan dari mulut pejantan, larva diinkubasikan
dalam akuarium berukuran 45×45x90 cm. Temperatur air 27-29 °C menggunakan
pemanas thermostat. Oksigen terlarut 5 ppm (mg/ I) menggunakan aerator bukaan
kecil.
Untuk mencegah infeksi akibat penanganan larva, dalam air
dilarutkan Acriflavine 2 ppm. Menggunakan teknik pembenihan in vitro ini,
Survival Rate (SR) yang didapat sampai tahap ikan dapat berenang adalah 90-100
%.
-Selama periode inkubasi, larva
tidak perlu diberikan pakan. Beberapa minggu pertama selama kuning telur belum
habis, biasanya larva hampir selalu berada pada dasar akuarium. Larva mulai
berenang ke atas bertahap ketika ukuran kuning telur mengecil. Pada minggu ke
delapan, kuning telur hampir terserap habis sehingga larva mulai berenang ke
arah horizontal. Pada tahap ini, pakan hidup pertama harus mulai diberikan
untuk mencegah larva saling Ketika ukuran larva mencapai 8,5 cm atau berumur 7
minggu, kuning telur terserap secara penuh dan larva dapat berenang bebas.
3. Pada
ikan arwana:
A.
Penebaran induk
Induk
dipelihara dalam kolam berukuran 5 x 5 m dengan kedalaman air 0,5-0,75 m. Kolam
ditutup plastik setinggi 0,75 m untuk mencegah lompatan ikan.Ruangan pemijahan
dibangun di pojok perkolaman dan ditambah dengan beberapa kayu gelondongan
untuk memberikan kesan alami. Batu dan kerikil dihindari karena dapat melukai
ikan atau dapat tercampur pakan secara tidak sengaja.
Kolam pembesaran dibangun di area
tenang dan ditutup sebagian, dan dijauhkan dari sinar matahari langsung. Induk
dipelihara dalam kolam pembesaran hingga mencapai matang gonad.
B.
Pemberian pakan
Keseimbangan
gizi sangat penting bagi kematangan gonad dan pemijahan. Induk diberikan pakan
bervariasi yang mengandung kadar protein tinggi. Pakan diberikan setiap hari
dalam bentuk ikan/udang hidup atau runcah, dan ditambah pelet dengan kadar
protein 32 %. Jumlah pemberian pakan per hari adalah 2 % dari bobot total
tubuh.
C.
Pengelolaan kualitas media budidaya
Kualitas
air dijaga agar mendekati lingkungan alami arwana yaitu pH 6,8-7,5 dan suhu
27-29 C. Penggantian air dilakukan sebanyak 30-34% dari total volume dengan air
deklorinisasi.
Pada ikan patin :
1)
Penebaran induk
Budidaya ikan patin dalam kategori
pembesaran biasanya dilakukan saat bibit ikan patin memiliki berat 8-12
gram/ekor, dan setelah 6 bulan dapat mencapai 600-700 gram/ekor. Sebagian
petani ikan patin memanen setelah usia 3 sampai 4 bulan karena permintaan pasar
ikan patin dengan bobot yang lebih rendah per ekornya.
2)
Pemberian pakan
Faktor yang cukup menentukan dalam budi
daya ikan patin adalah faktor pemberia makanan. Faktor makanan yang berpengaruh
terhadap keberhasilan budi daya ikan patin adalah dari aspek kandungan
gizinya, jumlah dan frekuensi pemberin makanan. Pemberian makan dilakukan 2
kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan yang diberikan per hari sebanyak
3-5% dari jumlah berat badan ikan peliharaan. Jumlah makanan selalu berubah
setiap bulan, sesuai dengan kenaikan berat badan ikan. Hal ini dapat diketahui
dengan cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang
dipelihara (sampel). Pakan yang diberikan adalah Pelet dan bisa ditambahkan makanan
alami lainnya seperti kerang, keong emas,bekicot, ikan sisa, sisa dapur dan
lain-lain. Makanan alami yang diperoleh dari lingkungan selain mengandung
protein tinggi juga menghemat biaya pemeliharaan.
3)
pengelolaan kualitas media budidaya
Kualitas air untuk pemeliharaan ikan
patin harus bersih, tidak terlalu keruhdan tidak tercemar bahan-bahan kimia
beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus diperhatikan, untuk
menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan penghambat
pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter)
Pada ikan gurame :
a)
penebaran induk
b)
pemberian pakan
Ikan gurame dapat tumbuh dengan memakan
daun-daun tanaman, terutama talas-talasan. Kandungan protein tanaman ini
rendah, sehingga pertumbuhannya lambat. Pemberian pelet berkadar protein tinggi
(25-30%) dapat mempercepat pertumbuhan, walaupun demikian keberadaan daun-daun
tananam masih diperlukan dalam rangka pencegahan penyakit.
c)
pengelolaan kualitas media budidaya
Pada ikan bawal :
i.
penebaran induk
ii.
pemberian pakan
iii.
pengelolaan kualitas media budidaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar