Senin, 05 Desember 2011


Evaluasi kognitif

1.       Jelaskan ciri-ciri induk betina dan induk jantan arwana,patin,gurame, dan bawal?
2.       Berdasarkan sifat penjagaan terhadap keturunannya,induk ikan di bedakan menjadi parental care dan non parental care. Apakah sifat penjagaan mempengaruhi sifat penetasan telur dan keberlangsungan hidup larva? Jelaskan!
3.       Jelaskan peruses dari kegiatan :
A.      Penebaran induk
B.      Pemberian pakan
C.      Pengelolaan pakan
D.      Pengelolaan kualitas media budidaya
Dari iakn arwana,patin,gurame dan bawal!

JAWABAN
1.       -ciri-ciri induk ikan arwana
Induk betina :
Badannya lebih pendek dan kepalanya lebih runcing
Induk jantan:
Badannya yang memanjang dan kepalanya yang melebar  karena berfungsi untuk menyimpan telur
-ciri-ciri induk ikan betina dan jantan ikan patin
Induk jantan:
Tubuh lebih panjang,mempunyai satu buah lubang kelamin yang bentuknya panjang,berat minimum 2kg/ekor
Induk betina:
Tubuh lebih pendek , mempunyai 2 buah lubang kelamin yang berbentuk bulat , berat minimum 3kg/ekor
-ciri-ciri induk jantan dan betina ikan gurame
Induk jantan:
Mempunyai dasar sirip yang berwarna terang/keputih-putihan,dagu yang berwarna kuning ,lebih tebal dari pada betina dan menjulur
Induk betina :
Mempunyai dasar sirip dada yang gelap / mehitaman ,dagu yang berwarna keputih-keputihan atau sedikit coklat jika di taruh dilantai ikan tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
-ciri-ciri induk jantan dan betina ikan bawal
Induk jantan:
Tubuhnya lebih langsing ,warna merah pada perutnya lwbih menyala,agresif,mengeluarkan cairan putih jika di striping kea rah kelamin apa bila sudah matang gonad
Induk betina:
Tubuhnya lebih besar,gerakannya lambat, jika di striping akan mengeluarkan telur apabila sudah matang gonad.
2.       Setelah dikeluarkan dari mulut pejantan, larva diinkubasikan dalam akuarium berukuran 45×45x90 cm. Temperatur air 27-29 °C menggunakan pemanas thermostat. Oksigen terlarut 5 ppm (mg/ I) menggunakan aerator bukaan kecil.
Untuk mencegah infeksi akibat penanganan larva, dalam air dilarutkan Acriflavine 2 ppm. Menggunakan teknik pembenihan in vitro ini, Survival Rate (SR) yang didapat sampai tahap ikan dapat berenang adalah 90-100 %.
-Selama periode inkubasi, larva tidak perlu diberikan pakan. Beberapa minggu pertama selama kuning telur belum habis, biasanya larva hampir selalu berada pada dasar akuarium. Larva mulai berenang ke atas bertahap ketika ukuran kuning telur mengecil. Pada minggu ke delapan, kuning telur hampir terserap habis sehingga larva mulai berenang ke arah horizontal. Pada tahap ini, pakan hidup pertama harus mulai diberikan untuk mencegah larva saling Ketika ukuran larva mencapai 8,5 cm atau berumur 7 minggu, kuning telur terserap secara penuh dan larva dapat berenang bebas.
3.       Pada ikan arwana:
A.      Penebaran induk
Induk dipelihara dalam kolam berukuran 5 x 5 m dengan kedalaman air 0,5-0,75 m. Kolam ditutup plastik setinggi 0,75 m untuk mencegah lompatan ikan.Ruangan pemijahan dibangun di pojok perkolaman dan ditambah dengan beberapa kayu gelondongan untuk memberikan kesan alami. Batu dan kerikil dihindari karena dapat melukai ikan atau dapat tercampur pakan secara tidak sengaja.
Kolam pembesaran dibangun di area tenang dan ditutup sebagian, dan dijauhkan dari sinar matahari langsung. Induk dipelihara dalam kolam pembesaran hingga mencapai matang gonad.
B.      Pemberian pakan
Keseimbangan gizi sangat penting bagi kematangan gonad dan pemijahan. Induk diberikan pakan bervariasi yang mengandung kadar protein tinggi. Pakan diberikan setiap hari dalam bentuk ikan/udang hidup atau runcah, dan ditambah pelet dengan kadar protein 32 %. Jumlah pemberian pakan per hari adalah 2 % dari bobot total tubuh.
C.     Pengelolaan kualitas media budidaya
Kualitas air dijaga agar mendekati lingkungan alami arwana yaitu pH 6,8-7,5 dan suhu 27-29 C. Penggantian air dilakukan sebanyak 30-34% dari total volume dengan air deklorinisasi.
Pada ikan patin :
1)      Penebaran induk
Budidaya ikan patin dalam kategori pembesaran biasanya dilakukan saat bibit ikan patin memiliki berat 8-12 gram/ekor, dan setelah 6 bulan dapat mencapai 600-700 gram/ekor. Sebagian petani ikan patin memanen setelah usia 3 sampai 4 bulan karena permintaan pasar ikan patin dengan bobot yang lebih rendah per ekornya.



2)      Pemberian pakan
Faktor yang cukup menentukan dalam budi daya ikan patin adalah faktor pemberia makanan. Faktor makanan yang berpengaruh terhadap keberhasilan budi daya ikan patin adalah dari aspek  kandungan gizinya, jumlah dan frekuensi pemberin makanan. Pemberian makan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan yang diberikan per hari sebanyak 3-5% dari jumlah berat badan ikan peliharaan. Jumlah makanan selalu berubah setiap bulan, sesuai dengan kenaikan berat badan ikan. Hal ini dapat diketahui dengan cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang dipelihara (sampel). Pakan yang diberikan adalah Pelet dan bisa ditambahkan makanan alami lainnya seperti kerang, keong emas,bekicot, ikan sisa, sisa dapur dan lain-lain. Makanan alami yang diperoleh dari lingkungan selain mengandung protein tinggi juga menghemat biaya pemeliharaan.
3)      pengelolaan kualitas media budidaya
Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu keruhdan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus diperhatikan, untuk menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter)

Pada ikan gurame :
a)      penebaran induk






b)      pemberian pakan
Ikan gurame dapat tumbuh dengan memakan daun-daun tanaman, terutama talas-talasan. Kandungan protein tanaman ini rendah, sehingga pertumbuhannya lambat. Pemberian pelet berkadar protein tinggi (25-30%) dapat mempercepat pertumbuhan, walaupun demikian keberadaan daun-daun tananam masih diperlukan dalam rangka pencegahan penyakit.

c)       pengelolaan kualitas media budidaya






Pada ikan bawal :

                                                                                 i.            penebaran induk





                                                                               ii.            pemberian pakan





                                                                              iii.            pengelolaan kualitas media budidaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar