Megawati: Indonesia Hadapi Masa Sulit
BANDUNG (Berita): Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengatakan, saat ini dan pada masa mendatang tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia kian berat di tengah situasi alpanya kepemimpinan yang bergelora ketika perubahan zaman yang kontradiktif.“Kontradiksi dan tantangan yang secara sistematis dan masif menggerus kedaulatan politik dan keberdikarian ekonomi dan identitas budaya kita sebagai bangsa,” kata Megawati saat menyampaikan pidato politiknya dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I, Bandung, Jawa Barat, Senin (12/12).
Hadir Ketua Umum DPP Partai Gerindra Suhardi, Hasyim Muzadi, mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih, mantan KSAD Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu dan Ketua DPP PKS Mustafa Kamal.
Presiden RI kelima ini menjelaskan, tantangan yang akan dihadpi menjangkau berbagai dimensi kehidupan. Dalam bidang ekonomi, kata dia, bangsa Indonesia sedang dihadapkan pada resiko masuknya kapitalisme global. Bung Karno, dia, pernah menggambarkan dengan sangat baik dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi” halaman 589 tahun 1941. Namun, pemikiran proklamator RI itu disudutkan ke pojok sejarah, diberlakukan sebagai sampah atau dokumen yang harus dimusnahkan.
“Sayang, pemerintahan sekarang ini lebih memilih jalan kapitalisme dan tetap setia berjalan di jalur neo-liberal,” ujarnya.
Menurutnya, para pengambil kebijakan lebih suka mencari jawaban atas masalah bangsa pada gagasan asing dari Barat. Para pemimpin Republik ini seakan tidak percaya pada kekuatan daya nalar anak bangsa sendiri.
Salah Kelola
Megawati tak berharap kondisi saat ini semakin memperburuk yang menimpa bangsa ini. Diungkapkan, dalam perjalanannya ke sejumlah negara, situasi dunia sedang memasuki era krisis sebagaimana digambarkan Soekarno. Situasi dunia saat ini sangat mencemaskan, lebih-lebih dengan melemahnya daya dukung industri kita.
“Kita takluk dan menjadi konsumen produk bangsa lain. Bahkan, yang diimpor tidak lagi beras, kedelai, daging, susu, gula dan garam. Ikan dan jahe pun sekarang harus impor. Padahal negara kita kaya sekali,” kata Megawati.
Selain itu, Megawati mengatakan, kepemimpinan ideologis yang berpihak pada pada hajat hidup orang banyak tidak ada. Ia bertanya,
“Tidak usah muluk-muluk, apakah kita pernah memproduksi secara massal jutaan cangkul untuk petani?”
Dalam bidang politik, kata Megawati, bangsa Indonesia juga menghadapi tantangan. Saat ini, kata dia, baik dalam pemilu presiden dan pemilu kepala daerah, bangsa Indonesia terbelenggu oleh visi-visi. Pengelolaan negara dilihat dari kacamata teknokratik dan berjangka pendek, ibarat mengelola perusahaan.
Korupsi benar-benar merasuk dalam setiap relung kehidupan. Pengelolaan negara dan bangsa kehilangan semua dimensi politik dan ideologinya,” kata Megawati.
Pada bagian lain, Megawati juga menyampaikan duka cita mendalam soal kematian mahasiswa Universitas Bung Karno, Sondang Hutagalung, yang membakar diri sebagai bentuk protes atas pengelolaan negara di depan Istana Negara. Pesan yang disampaikan
“Sondang, terasa keras menampar bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia, terutama pemimpin, harus menyadari bahwa ada yang salah dalam pengelolaan negara.
“Apakah pemimpin di negeri ini tidak terbetot hatinya melihat seorang mahasiswa yang karena prinsip dan keyakinannya melakukan tindakan itu? Merinding rasanya bulukuduk saya sebagai seorang ibu melihat derita anak negeri ini,” tuturnya.
Jika terus dibiarkan, kata Megawati, bisa dipastikan dalam waktu singkat bangsa Indonesia kini berada di bibir jurang kehancuran akan mengalami kemerosotan tanpa bisa menemukan jalan kembali. Seorang pemimpin harus berani menghadapi badai dan terjangan ombak krisis dengan keyakinan politiknya. (iws)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar