Aksi Sondang Tamparan Keras buat SBY
Effendi Gazali, Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Indonesia (UI)
Selasa, 13 Desember 2011
JAKARTA
(Suara Karya): Aksi bakar diri mahasiswa Fakultas Hukum Universitas
Bung Karno (UBK), Sondang Hutagalung, dinilai telah menjadi tamparan
keras bagi pribadi Presiden Susio Bambang Yudhoyono (SBY) maupun
pemerintahannya serta penyelenggara negara.
Sebab, aksi itu akan menjadi sejarah kelam yang tak bisa dilupakan
rakyat.
Demikian dikatakan pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia
(UI) Effendi Gazali dan anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Budiman Sujatmiko, secara
terpisah, di Jakarta, Senin (12/12).
Sondang meninggal dunia setelah dalam kondisi kritis sempat dirawat di
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Sondang dimakamkan di
Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa, Jakarta.
Effendi mengingatkan Presiden SBY dan DPR agar lebih peduli terhadap
nasib rakyat. Aksi bakar diri mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung
Karno (UBK) Sondang Hutagalung merupakan cermin kepeduliannya terhadap
nasib negeri dan rakyat. Sondang rela bakar diri untuk mengkritik
pemerintah agar lebih peduli terhadap rakyat.
"Atas peristiwa ini, saya mengimbau wakil rakyat baik di jajaran
eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, penting untuk mengetahui
kondisi dan kebutuhan rakyatnya," kata dia.
Effendi turut berbela sungkawa atas meninggalnya Sondang Hutagalung.
"Kita prihatin tentunya. Kita berharap masih banyak cara lain untuk
koreksi pemerintah," ujar dia.
Anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP), Budiman Sujatmiko, berharap agar pemerintah berkaca pada
kejadian memilukan itu.
Dia meminta pemerintah memperhatikan perjuangan Sondang yang tidak puas
atas upaya pemerintah selama ini. "Pemerintah harus bisa menangkap
pesan ini. Sondang harus jadi yang pertama dan terakhir. Jangan ada lagi
'Sondang-Sondang' yang berikutnya," kata Budiman.
Budiman mengatakan, Sondang adalah sosok yang baik yang telah
mengorbankan dirinya bagi bangsa dan negara. Semasa hidup, Sondang
dikenal aktif menentang pelanggaran hak asasi manusia. Ia juga kerap
ikut berunjuk rasa menentang kebijakan pemerintah yang dipandang keliru.
Sementara itu, aksi bakar diri tersebut juga menjadi perhatian Ketua
Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya di pembukaan Rakernas
PDI Perjuangan.
Mega berpendapat, kematian Sondang Hutagalung merupakan tragedi yang
harus diperingati sebagai tamparan keras atas kesalahan pengelolaan
bangsa.
"Beberapa hari lalu kita menyaksikan seorang anak negeri, Sondang
Hutagalung, membakar diri di hadapan Istana sebagai protes atas
pengelolaan politik dan pemerintahan, yang jauh dari gambaran ideal
generasi muda bangsa," ujar Megawati.
Menurut Megawati, pesan Sondang dalam aksi bakar diri itu jelas tertuju
pada kekecewaan terhadap perilaku elite pemerintah. "Sondang telah
pergi, tapi pesannya terasa keras menampar telinga kita. Kita tidak
membutuhkan teguran keras lainnya, hanya untuk menyadari bahwa ada yang
salah dengan pengelolaan bangsa ini," kata Mega. (Feber S/Rully/Joko S)
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar