Jumat, 16 Desember 2011

Deteksi Pesawat dari Landing hingga Take Off 


Alat ini membuat pergerakan pesawat lebih terarah dan bisa menghemat bahan bakar.
Laporan: Aswad Syam, Jakarta

MUSIBAH kehilangan jejak AdamAir di perairan Majene, juga pesawat Cessna yang jatuh di daerah Gunung Ciremai, mengajarkan kita tentang pentingnya teknologi. Andai teknologi Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADBS) sudah ada pada saat itu, puluhan nyawa setidaknya masih ada harapan terselamatkan.

Seperti itulah yang ada di benak saya saat mengamati empat monitor berjajar di dalam ruangan kantor Fajar Group Graha Lembang Sembilan Jakarta. Monitor paling kanan menampilkan data pesawat, monitor kedua data penerbangan dua dimensi, monitor ketiga data penerbangan tiga dimensi, dan monitor keempat menggambarkan pergerakan cuaca. Itulah perangkat alat pendeteksi pesawat yang dimodifikasi sebelas anak muda yang tergabung dalam Tim PAS. Dari situ kelihatan begitu padatnya trafik penerbangan kita di udara. Perangkat itu disosialisasikan tim PAS di depan Komisaris Utama PT Media Fajar, HM Alwi Hamu, Direktur Eksekutif Institut Lembang Sembilan (L9), Rapsel Ali, serta beberapa relasi bisnis Fajar Group.

Idealnya, jumlah pegawai Air Traffic Control (ATC) di Bandara Soekarno Hatta harusnya 400 orang, namun yang ada sekarang hanya setengahnya, 200 orang. Padahal di langit Jakarta, ada banyak pesawat yang siap landing tapi ATC sangat terbatas. Makanya dua penerbangan biasanya ditangani hanya satu orang, sehingga sangat rentan mengakibatkan kecelakaan pesawat.

Selain itu AQO atau radar doppler, harusnya sudah diganti delapan tahun lalu, namun saat ini masih digunakan di Soekarno Hatta, juga di bandara-bandara lainnya di Indonesia. Malah, di Bandara Ahmad Yani Semarang, radar doppler sama sekali tidak ada. Pegawai ATC bandara setempat, mengetahui posisi pesawat hanya lewat radio komunikasi dengan pilot pesawat.

Saat ini, memang PT Angkasa Pura II sementara mengagendakan untuk membeli alat service movement reader dari luar negeri yang harganya Rp44 miliar. Namun, sistemnya hanya di-ground saja. Padahal ada alat yang dimodifikasi sebelas orang anak negeri, dengan harga yang sepersepuluh lebih rendah, dan selain ground juga bisa juga mencitrakan pesawat yang terbang di ketinggian 55 ribu feet.

Ketua tim PAS yang merakit alat tersebut, Surya Indra mengungkapkan, perangkat alat tersebut dinamakan Automatic Dependent Surveillance Broadcast Next Generation (ADSB NextGen). Indra memaparkan, kelemahan radar doppler yang dipakai sekarnag ini, memiliki resolusi terbatas, gambar mentah (raw video), hanya dapat menampilkan dua dimensi, sulit menampilkan tiga dimensi, juga sulit membedakan objek yang berdekatan.

“Juga hanya mendeteksi objek dari logam, dan jangkauan yang pendek hanya 50 Nautical Miles (NM). Dan lebih parah lagi, bisa salah membaca target karena adanya pancaran sinyal-sinyal palsu,” papar Indra.

Indra menambahkan, radar doppler biasanya membaca dua detik satu move. Sedangkan ADSB pergerakan bacaannya satu detik satu move dalam dua dimensi. Sedangkan dalam tiga dimensi, ADSB bisa menampilkan pergerakan pesawat lima detik satu move. Radar doppler sendiri saat ini tidak memiliki tampilan tiga dimensi.

Semua pesawat keluaran terbaru, diwajibkan memiliki transponder. Alat ini berfungsi, menerima sinyal dari satelit yang dipancarkan dari pesawat via GPS. Sistem ADSB juga mengirit bahan bakar, ketika pesawat berpedoman pada radar doppler, dia biasanya harus berputar-putar hingga kurang lebih satu jam dan menghabiskan bahan bakar sekitar 250 kiloliter. Dengan ADSB, pergerakan pesawat akan terarah dan bisa menghemat hingga bahan bakar yang setara dengan 100 unit mobil.

“Sekarang ini kita fokus ke Jakarta, dan ke depan, kita mau buat interkoneksi Jakarta, Makassar, Maluku, dan Papua,” beber Indra.

Dibanding radar doppler, ADSB ini memiliki daya pancar sinyal yang lebih luas. Selain bisa menangkap sinyal pesawat di ketinggian 55 ribu feet, ADSB juga bisa men-cover sinyal pesawat pada luasan 600 kilometer. Kapasitas penyimpanan data bisa 15 tahun karena memiliki kapasitas memori sekitar 10 terabyte. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar